Villa Mewah

November 9, 2008

Bismillah,

Bagi anak yang hidup dekat Jatinangor tentu sudah tahu daerah Caringin.  Bila kita menyusuri jalanan ke bawah-Nya akan kita dapati Pesantren Mahasiswa Fi Zhilal Jatinangor.  Sedikit belok ke kanan kita akan mendapati hamparan sawah dan sebuah bangunan yang amat tua, itulah Villa Mewah, Villa Mepet Sawah. Sejatinya itu bukan villa tapi sebuah bangunan tua dengan lima kamar yang kami kontrak seharga Rp. 1.500.000, dikeroyok 10 orang.  jadi tiap orang membayar hanya 150.000 / tahun.  menurut orang mungkin kami miskin, tapi menurut kami, kami cerdas.  Bukankah orang miskin sering mengambil keputusan cerdas ?

Kami menyebutnya villa.  tapi orang lain menyebutnya dengan nada sinis, villa ?  Ya, karena itu cuma rumah tua yang dalam setahun saja sudah 3 kali kemalingan.  Tapi bukan begitu cara berpikir orang hebat.  Bukankah Cipanas (air panas) udaranya sangat dingin ?  Bukankah Cisaat (air kering) adalah daerah langganan banjir, bukankah gunung Ciremai (cuma segede pohon Ciremai) adalah gunung terbesar dan terangker di Jawa Barat ?  Kenapa nenek moyang kita menamakan tempat-tempat itu berkebalikan maknanya ?  Begitulah cara nenek moyang melihat masalah, masalah itu kecil karena sumber solusinya, Allah, maha besar.  Itulah bahasa-bahasa optimisme, begitu kata Prof. Mansur Suryanegara padaku.

Villa mewah adalah villa bagi orang yang kuat bertahan hidup.  jaraknya dari jalan raya dan sumber makanan sangat jauh, apalagi bila hujan, nyaris tidak bisa ke mana-mana.  Pernah aku terjebak di dalamnya seharian, bukan karena hujan, tapi karena kekeringan.  Ya, duitku habis.  Wong jatah bulananku cuma 75.000 per bulan.  Dengan uang segitu ? Bisa aktif bolak-balik Jakarta-Bandung ?  ya, itulah hebatnya Allah s.w.t, cukup aja.  Aku terjebak tidak bisa ke mana-mana.  Perutku sangat lapar.  bahkan aku tidak punya uang  500 perak pun untuk naik angkot ke kosan temenku dan pinjaam uang.

Aku mulai gelisah mencari sesuatu di dapur, barangkali ada sisa makanan.  aku coba keluar di kolam depan rumah, mungkin ada daun yang bisa kubuat sayur, entah kangkung atau genjer.  tapi tidak ada, bahkan sehelai kang kung pun.  Saat itu yang kubisa hanya bermunajat pada Allah agar mengisi perutku yang sudah sangat lapar ini.  Biasanya habis bermunajat aku nemu duit, tapi ini tidak ada.  Aku lihat celengan hajiku. Ya, celengan haji.  walaupun uang selalu pas-pasan aku selalu menabung 500 perak per hari untuk naik haji.  Ternyata celenganku pun sudah ludes kuambil sedikit-sedikit.  Sampai akhirnyaa…. aku gak tahan.

Menjelang waktunya makan siang ada orang berjalan ke rumah kontrakanku di sawah.  Assalamu’alaikum….
“Wa alaikum salam….,” jawabku.
“eh pada kamarana ieu kosong, “
“nuju (lagi) kuliah pak, bapak milarian (cari) saha ?” tanyaku
“Saya bapakna Deden.  Tadi pulang kondangan pengen pulang ke Majalaya, tiba-tiba hati teh berubah pengen ke sini, nengok Deden.”

Subhanallah, Bapaknya Deden jarang sekali kemari makanya aku tidak kenal.  Selama aku kuliah paling cuma 2 kali.  Hmm…tanda baik.  Benar saja, hari ini aku makan besar.  Bapaknya Deden membawa makanan untuk semua anak kontrakan untuk tujuh hari makan.  Makanan dari orang hajatan, semua jenis makanan yang bisa diawetkan.  Alhamdulillah…berdoa minta makan sekali dijawab tujuh hari makan gratis.  Bukan cuma aku, semua bisa makan.  Do’a emang dahsyat.

One Response to “Villa Mewah”

  1. Upik Says:

    Itu kekuatan dari doa mas.. Yang tidak akan bisa dinalar dengan logika dan dihitung dengan kalkulator paling canggih sekalipun. Dalam suka dan duka, sudah sepatutnyalah kita selalu memasrahkan diri dan berdoa kepada Allah SWT.

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.