Oleh : Rudi Wahyudi

Para Guru Sufi mengatakan bahwa kekayaan cenderung membuat manusia mempunyai adab (etika) yang jelek. Karena itu mereka lebih menyukai ujian kepahitan daripada ujian kekayaan. Kepahitan dibenci oleh nafsu tapi disukai oleh fitrah, sementara kekayaan disukai nafsu tetapi dibenci oleh fitrah. Nampak jelas di bulan Ramadhan kemarin, nafsu kita benci sekali lapar, tapi fitrah kita justru menyukainya, ada kelezatan ibadah dalam lapar, kelapangan hati, dan ketenteraman jiwa.

Benar sekali perkataan para guru itu. Masih ingat dalam benakku Inul Daratista beberapa tahun lalu, saat banyak orang menghujatnya. Dia menangis, memelas, mengundang simpati banyak orang, dia cium tangan raja dangdut memohon maaf atas perilakunya. Sangat sopan, lugu, dan tidak tahu apa-apa. Sekarang, setelah kekayaan berkumpul di tangannya, dengan yakinnya dia mengatakan bahwa mereka – orang yang mengkritiknya – iri dan dengki padanya, tidak memiliki yang dia punya, tidak bisa konser ke amerika – di depan WNI tentunya -. Terakhir kali, kulihat sebuah patung Inul Daratista di Pondok Indah. Lalu semua heboh, ada apa ini. Siapa yang telah jadi pahlawan. Masyarakat Indonesia dikompori media sibuk membicarakan patung Inul itu. Itu sumbangan dari Inul, warga baru di sini untuk warga Pondok Indah dan sekitarnya, begitulah kira-kira makna berita-berita di tv itu. Pak RT (rt nya pondok Indah, red) pun kaget, bukankah pahlawan untuk yang sudah mati ? Bukankah Mba Inul masih hidup ?, katanya. Oh Tuhan, manusia telah memonumenkan dirinya sendiri.

Aku pun masih ingat awal-awal acara 4 mata yang digawangi Mas Tukul, lucu, menarik, dan apa adanya. Awalnya acara yang dibuat dengan konsep talkshow dengan host yang polos, orang menyebutnya katro sangat menarik, percaya diri yang tinggi walaupun bahasa Inggrisnya sering kesasar ke brebes, tegal justru unik. Dalam banyak kegugupannya di awal-awal episode, istilah ‘kembali ke laptop’ menjadi penyelamat. Dedi Mizwar mengatakan bahwa acara ini menarik karena menjual keluguan, kejujuran, dan kepolosan di zaman yang penuh kepura-puraan, kebohongan, dan kemunafikan.

Ternyata peristiwa lama kembali terjadi, saat popularitas naik, kekayaan berkumpul, manusia menjadi lupa, adab pun menjadi rendah. Kata mulai kotor, wanita dilecehkan, binatang disakiti, adegan-adegan jorok dan menjijikkan dijual, menghina orang adalah santapan sehari-hari. Oh, Mas Tukul haruskan itu semua kau lakukan demi rupiah ? Kau dan teman-temanmu pun berkali-kali ditegur KPI, protes penonton, kritikan di milis dan blog, tapi kau tidak berubah sampai akhirnya kau undang Sumanto dan kau pandu seorang Ibu yang dengan sangat menjijikkan kau pinta untuk memakan kodok dan ikan hidup-hidup, disobek-sobek binatang itu di depan jutaan mata. Sangat menjijikkan ! Empat mata ditutup. Sedikit banyak itu mempengaruhi rejekimu, setidaknya kau harus mencarinya dari sumber lain. Benar kata pepatah ‘ mulutmu harimaumu’

Tidak mengapalah rejeki berkurang. Bukankah sang Guru, Ibnu Athoillah Assakandari, berkata ‘ betapa kefakiran kadang bisa mengenalkan hamba pada Tuhannya hanya dalam sebulan saja, sementara dengan kekayaan bertahun-tahun kita tidak bisa mengenal-Nya. Sang Guru pun melanjutkan, tidaklah Tuhanmu menimpamu dengan kesempitan kecuali agar tidak jelek adabmu (karena kekayaan), dan tidaklah Tuhanmu memberikanmu kelapangan kecuali agar engkau tidak berputus asa dari rahmat-Nya (karena seringnya ditimpa kesempitan). Mudah-mudahan apa yang terjadi menjadi renungan kita. Eh, denger-denger Mas Tukul akan mencalonkan diri jadi Gubernur DKI ? Candanya. Selamat deh, asal jangan terulang yang sudah-sudah. Ojo ngroso biso, kudu biso rumongso.

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.