Bidah dan Ahli Bidah : Hati-hati dalam Menghukumi

Akhir-akhir ini marak sekali perdebatan tentang bid’ah, pro mana dan pro mana saya kurang terbiasa pro-proan … :) yang pasti yang mendekati Al Qur’an dan Sunnah saja yang saya pro.  Di sini juga saya tidak ingin memperdebatkan apa itu bid’ah dengan berbagai macam pengertiannya versi masing-masing, tetapi saya hanya ingin sedikit nyentil khususnya kepada yang sering melakukan tabdi’ (pembid’ahan) terhadap orang lain.  Saya ingin menyerukan agar mereka berhati-hati dalam menuduh orang lain melakukan bid’ah, apalagi menyebutnya ahli bid’ah ? Bila tuduhannya salah taubatnya susah lho, karena ini berkaitan dengan nama baik manusia alias hak adami dan salah satu syarat taubatnya kalau salah adalah mengklarifikasi nama baik yang dituduh di depan semua orang yang pernah mendengar tuduhan itu, nah lho ? berat kan …

Yang kedua ada perbedaan mendasar Bid’ah dan Ahli Bid’ah, sama dengan maksiat dan ahli maksiat.  Mungkin banyak orang yang jatuh pada maksiat tapi tidak lantas dituduh tukang maksiat, karena setiap orang pasti pernah jatuh dalam maksiat, kan beda terjatuh dalam maksiat dengan tukang maksiat.  Begitu juga dengan bid’ah, bahkan tidak jarang ulama pun jatuh pada bid’ah karena begitu samar dan dekatnya bid’ah tertentu dengan sunnah sehingga beliau menganggapnya itu sunnah, di antara yang terkena ini menurut ulama lain adalah Imam Ibn Hajar Al Asqolani dan Imam  An Nawawi, tetapi bukan berarti beliau ahlul bid’ah, tetap saja keduanya adalah Ahlu sunnah, bahkan Imam Ahlu Sunnah karena seperti yang kita ketahui ada satu hal yang diperdebatkan menurut ulama lain bid’ah menurut ulama lainnya sunnah.  Kalau setiap ulama yang pernah jatuh dalam kesalahan ijtihad dituduh ahlul bid’ah maka tidak ada satu pun ulama kecuali mereka akan dituduh ahlul bid’ah.  Perhatikanlah perkataan Imam Adz Dzahabi :

“Seandainya setiap kali ada imam salah dalam ijtihadnya dalam satuan masalah dengan kesalahan yang diampuni lalu kita serang dan kita hajr (boikot) dan kita bid’ahkan niscaya tidak akan selamat seorangpun, tidak ibnu Nashr, tidak pula Ibnu Mandah, tidak pula orang yang lebih besar dari keduanya. Allahlah yang memberi petunjuk manusia kepada kebenaran dan Dia Maha Kasih Sayang.

Sebetulnya bila kita menelisik dan mengambil kutipan para ualama tentang ini akan banyak sekali dan panjang, cukuplah satu itu saja.  Dan saya ingin mengutip perkataan ulama, tidak mengapa kita salah memasukkan ahlul bid’ah ke dalam golongan ahlussunnah tetapi janganlah sekali-kali mengeluarkan seorang ahlu sunnah dan memasukkannya ke dalam golongan ahlul bid’ah.  Wallahu a’lam

0 Responses to “Bidah dan Ahli Bidah : Hati-hati dalam Menghukumi”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Berikan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Cuci Gudang Aneka Barang

CERIA PERAGA TK & PAUD


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: